Senin, 25 April 2016

KALAU ADA SAKSI YEHOVA KE RUMAH ANDA, USIR SAJA!!!

Saksi Yehova disebut juga Rasselisme karena pendirinya bernama Charles Taze Russel yang pernah menyatakan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali akan terjadi pada tahun 1874, dan apa yang dikatakannya tidak terbukti. Lalu ia menyatakan lagi bahwa Yesus akan datang tahun 1916, ternyata itupun suatu kebohongan. Kebohongan tersebut diteruskan oleh penerusnya dengan memberikan berbagai alasan yang nampak masuk akal mengenai tidak terjadinya kedatangan Yesus yang pernah dikatakannya. Tahun-tahun berikut ini merupakan penetapan kedatangan Yesus yang kedua kali meskipun tidak pernah terbukti sampai hari ini yaitu tahun 1918, 1920, 1925, 1972 dan 1992.

Alasan orang Kristen tidak diperbolehkan menerima orang-orang dari Saksi Yehova atau juga yang menyebut diri “siswa-siswa sekolah Alkitab” masuk kedalam rumah, karena keyakinan mereka bertentangan dengan iman Kristen. Bukti berikut di bawah ini tiga dari sekian banyak penyimpangan pengajaran yang didapatkan dari buku pegangan para pengikut Saksi Yehova.
1. Yesus adalah malaikat Mikhael (Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab, hal. 437)
2. Yesus lebih rendah dari Allah (Ibid, hal. 390)
3. Roh Kudus bukan pribadi dan hanya tenaga aktif (Pengetahuan Yang Membimbing Kepada Kehidupan Abadi, hal. 31)
Tiga prinsip penting dalam iman Kristen diputarbalikkan, dan mendatangi orang Kristen untuk dipengaruhi supaya mengikuti pendapatnya. Jika orang Kristen tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang iman Kristen, dan memperbolehkan pengikut Saksi Yehova masuk kedalam rumah merupakan tindakan ceroboh. Orang Kristen yang ceroboh akan menganggap apa yang dikatakan pengikut Saksi Yehova sebagai kebenaran. Anggapan tersebut dapat terjadi karena minimnya pengetahuan tentang iman Kristennya, sementara itu para pengikut Saksi Yehova sudah dibekali buku pegangan yang didalamnya terdapat tahapan-tahapan sistematis untuk mempengaruhi (baca: menyesatkan) orang Kristen. Orang Kristen sendiri tidak dibekali bagaimana cara menyikapi para Saksi Yehova.

JAWABAN
Menafsirkan ayat Alkitab tidak saja hanya berdasarkan pengartian kata (sintaksis) bagian dari studi gramatikal bahasa asli Alkitab, melainkan mempelajari hermeneutika untuk mendapatkan konteks dari teks yang dipelajari tidak kalah pentingnya dilakukan. Penyimpangan pengajaran Saksi Yehova di atas bertentangan dengan pengajaran iman Kristen yang dipercayai dari jaman para Rasul sampai era dewasa ini oleh milyaran orang Kristen.

1. Yesus lebih tinggi dari malaikat
Tidak ada satu mahklukpun dalam Alkitab termasuk malaikat Mikhael yang disebut sebagai Firman Allah kecuali Yesus Kristus. Jika Yesus dikatakan Firman yang keluar dari Bapa, itu berarti Yesus sehakekat dengan Bapa.Bagaimana mungkin penghulu malaikat Mikhael yang dipercayai sebagai Yesus berebut mayat Musa dengan Iblis (Yudas 1:9), sementara Yesus dapat menjumpai Musa dan berbicara dengannya yang disaksikan para murid-Nya (Matius 17:1-3). Pendapat saksi Yehova tersebut merupakan upaya untuk menurunkan Yesus sebagai Tuhan tanpa didukung oleh pendapat dari tulisan murid-murid Yesus sendiri. Suatu kebodohan jika orang Kristen mempercayai pendapat manusia seperti itu, karena dengan begitu telah mengabaikan banyak ayat Alkitab yang membuktikan Yesus adalah Tuhan. Dalam 1 Tesalonika 4:16 dikatakan penghulu malaikat (Mikhael, pen) akan memberikan aba-aba agar sangkakala Allah dibunyikan untuk menandai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali diakhir jaman. Dengan begitu para malaikat yang dipimpin Mikhael berperan sebagai pengiring dalam kedatangan Yesus Kristus, dan tidak lebih dari itu. Ibrani 1:3,4 disebutkan Yesus lebih tinggi dari semua malaikat, sedangkan malaikat diciptakan dengan tugas sebagai pelayan Allah. Segala malaikat di sorga termasuk Mikhael takluk kepada Yesus yang menduduki tahta di sebelah kanan Allah (1 Petrus 3:22). Sangat beralasan jika Filipi 2:10 mencatat bahwa semua mahkluk di sorga dan di seluruh bumi bertekuk lutut, dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan.

2. Yesus setara dengan Allah
Pendekatan dalam menafsirkan perkataan Yesus bukan dengan cara pandang Amerika, Eropa atau bangsa manapun kecuali Yahudi yang memiliki kedekatan konteks. Dalam pandangan Yahudi pada saat Yesus menyatakan bahwa Allah Yahweh sebagai Bapa-Nya, maka itu berarti Yesus setaraf dengan Allah Yahweh (Yohanes 5:18). Meskipun orang Yahudi sendiri tidak mempercayai dikarenakan nubuatan para nabi ditafsirkan secara politis. Yesus menegaskan lagi dengan menyatakan “Aku dan Bapa adalah satu’ (Yohanes 10:30), orang Yahudi kembali menyatakan penegasan Yesus tersebut merupakan pengakuan Yesus bahwa Bapa dan Yesus adalah Sama (Yohanes 10:33). Yesus kepada murid-Nya menyatakan bahwa “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”, dan “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yohanes 14:9, 10,11). Alkitab telah memberikan bukti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang setara dengan Allah, dimana Yesus memanggil-Nya sebagai Bapa. Upaya Saksi Yehova menyangkali kesetaraan Yesus dengan Allah bagaikan “menegakkan benang basah”.

3. Roh Kudus merupakan pribadi
Alkitab membuktikan Roh Kudus sebagai pribadi dengan menunjukkan memiliki kehendak (Kisah Para Rasul 13: 2; 1Korintus 12:11), pikiran yang menyebabkan bisa mengajar dan mengingatkan orang (Yohanes 14:26), perasaan (Yesaya 63:10, Efesus 4:30). Kalau ada perintah “Jangan mendukakan Roh Kudus” atau “teguran “…mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus…” (Kisah Para Rasul 5:3), tentu Roh Kudus diyakini sebagai pribadi. Sebab tidak mungkin tenaga aktif yang bukan sebagai pribadi dapat berduka dan didustai. Roh Kudus dapat memberikan kuasa kepada seseorang (Kisah Para Rasul 1:8), pertanyaannya kalau Roh Kudus hanya “tenaga aktif” (ibarat energi listrik) seperti yang diyakini Saksi Yehova bagaimana mungkin memiliki kehendak, pikiran, perasaan dan lagi dapat memberi kuasa pada seseorang? Pendiri Saksi Yehova sangat antipati terhadap doktrin trinitas yang menjadikannya mengingkari ayat-ayat Alkitab yang menyatakan Roh Kudus merupakan pribadi.

Tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan bahkan menempatkan-Nya setara dengan malaikat, Saksi Yehova tidak layak menyebut diri Kristen. Mereka menyebut diri Saksi Yehova, karena mereka bukan Saksi Kristus. Dan jika mereka menyatakan sebagai “orang Kristen” sebenarnya hanya merupakan siasat untuk pendekatan terhadap orang Kristen. Padahal mereka tetaplah Saksi Yehova pengikut Russelisme, melalui pengajarannya berusaha menyesatkan orang Kristen.

KENALI MEREKA
Para Saksi Yehova mendatangi rumah orang Kristen pertama-tama menawarkan buku-buku bacaan dengan gambar-gambar yang menarik, atau mengajak untuk menghadiri pertemuan mereka setelah beberapa kali perjumpaan. Biasanya mereka datang dua orang, yang satu sudah dianggap senior dengan membawa Yuniornya yang sedang dilatih. Dalam pembicaraannya akan mengajukan pertanyaan, dan kemudian memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat Alkitab terjemahan yang sesuai dengan selera mereka.

Mereka memiliki Alkitab sendiri yang diterbitkan oleh New World Translation, kalaupun membawa Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hanya untuk diambil ayat-ayat yang cocok untuk menyudutkan orang Kristen. Semua penjelasan yang mereka berikan berdasarkan buku pegangan untuk mempengaruhi orang Kristen, salah satunya berjudul Bertukar Pikiran mengenai Ayat-Ayat Alkitab yang mereka terbitkan. Pengikut Saksi Yehova akan mengunjungi rumah Anda berkali-kali sampai dalam situasi Anda dibuat menjadi “sungkan” (tidak enak hati), jika sudah demikian diharapkan Anda dapat menerima tawarannya. Mereka sengaja memakai cara yang kelihatan “tenang”, “sabar” dan “tidak emosi” tujuannya hendak menarik simpati. Umumnya orang Kristen yang lemah dalam pengajaran firman Tuhan, dan terlalu sungkan untuk mengatakan “Tidak, dan silahkan ketempat lain saja” yang mudah dipengaruhi. WASPADA, PENYESATAN TERJADI KARENA DIBERI KESEMPATAN, DAN TANPA MEMILIKI PENGETAHUAN ALKITAB. Karena itu Alkitab berkata : “Jangan diterima masuk ke rumah Anda penyesat yang mengaku diri Kristen tetapi menyatakan Yesus adalah malaikat Mikhael, Yesus lebih rendah dari Allah, dan Roh Kudus bukan suatu pribadi dan hanya merupakan tenaga aktif saja (2 Yohanes 2:10,11).


-Dikutip dari tulisan Pdt. Daniel Heruyono-

BEDA METERAI ROH, BAPTIS ROH DAN PENUH ROH?

Dikutip dari Tulisan Pdt. Daniel Heruyono.

Ada dua pemahaman terhadap tiga langkah yang Roh Kudus kerjakan kepada setiap orang percaya, dan masing-masing yang meyakini pemahaman tersebut berhadapan untuk saling “menyerang”. Pemahaman pertama menggabungkan pemeteraian dengan baptisan Roh Kudus, sehingga berkeyakinan tidak diperlukan lagi baptisan Roh Kudus terhadap orang yang sudah lahir baru. Pemahaman kedua menganggap baptisan Roh Kudus merupakan peristiwa yang sama dengan kepenuhan (baca: dipimpin) Roh Kudus, yang menghasilkan kekristenan hanya terfokus pada baptisan Roh Kudus yang ditandai bahasa roh, tanpa disertai buah Roh. Padahal fakta historis dalam gereja para Rasul, dicatat tentang hadirnya Roh Kudus tidak langsung mengerjakan secara serentak pemeteraian, pembaptisan dan kepenuhan Roh Kudus pada seseorang. 

Pemahaman tersebut akan menjadi lebih sederhana, jika pembaptisan dan dipenuhi Roh Kudus dipandang sebagai suatu simbol dari proses penyatuan kedalam tubuh Kristus pada saat orang dilahirkan baru. Dalam hal ini Penulis membedakan “kepenuhan Roh Kudus” seperti yang akan diuraikan berikut ini dengan “penuh dengan Roh Kudus” dalam Kisah Para Rasul 2:4 dan 9:17. Penuh dengan Roh Kudus dalam dua ayat tersebut, berhubungan dengan baptisan Roh Kudus yang diterima tanpa ada upaya apapun, sedangkan kepenuhan Roh Kudus adalah totalitas seseorang dalam kesediannya dipimpin oleh Roh Kudus. Berikut ini tiga langkah yang dimaksud, yaitu dimeteraikan Roh Kudus, baptisan Roh Kudus, dan Roh Kudus.

1. Meterai Roh Kudus
Para Rasul tidak pernah menyangsikan keselamatan yang diterima seseorang, saat ia percaya pada Yesus Kristus. Pengakuan atas keberdosaan dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, menjadikan seseorang dilahirkan kembali. Iman kepada pengorbanan Yesus Kristus, menjamin seseorang dihisapkan menjadi bagian dalam persekutuan orang percaya. Penebusan dosa didalam Yesus Kristus yang terjadi pada seseorang, pada dasarnya sekaligus merupakan perubahan status, dari anak kegelapan menjadi anak terang yaitu sebagai anak Allah. Perubahan status ini disebut adopsi, yang didalam dunia hukum merupakan pengesahan untuk memenuhi asas legalitas. Pengesahan menjadi anak Allah didalam Yesus Kristus ditandai dengan meterai Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam Efesus 1:13. Bahkan dalam Efesus 1:13 dinyatakan, bahwa kita telah dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu, yang adalah jaminan bagian kita. 

Selanjutnya disebutkan, Roh Kudus dikaruniakan guna memberi kepastian akan bagian kita, sampai memperoleh seluruhnya. Dengan menerima baptisan, orang beriman benar-benar dimeteraikan oleh Tuhan Allah. Sebab sakramen dimaksudkan untuk menguatkan iman kepada keselamatan, jangan sampai goyah (Harun Hadiwiyono, 1984). Manfaat meterai Roh Kudus adalah suatu bukti bagi orang yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus, dan hal itu sebagai tanda kepemilikkan, yang mana tidak dapat digugat lagi statusnya oleh Iblis yang sebelumnya menguasai.

Di dalam Efesus 1:13 kata “dimeteraikan” menggunakan bahasa Yunani “espragisthete” dengan parsing 2p. pl. 1 aor. pass. ind., dari akar kata “spragizo” yang artinya pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus yang telah mati di salib, serentak pada waktu itu sungguh-sungguh ia telah dimeteraikan oleh Roh Kudus menjadi milik Allah sekali untuk seterusnya. Sewaktu seseorang percaya, ia “dimeteraikan” dengan Roh (Efesus 1:13; 4:30); artinya, kehadiran Roh dalam diri orang-orang yang percaya merupakan cap yang menandakan milik Allah (seperti cap yang dipakai oleh orang-orang pada abad pertama di atas milik pribadi mereka) (Leon Morris, 1996). Pemeteraian berhubungan dengan hak waris yang dijanjikan, dan hak-hak lainnya sebagai anak Allah yang telah disediakan. Oleh karena itu “espragisthete” diterjemahkan “mark with a seal” (ditandai dengan segel), atau “marked with the seal”. Sebagai pembanding, penggunaan meterai terdapat juga dalam Roma 4:11 yang dihubungkan dengan “sunat”. Sunat bagi orang Yahudi diyakini sebagai “tanda” (baca: meterai) perjanjian antara Allah dengan Abraham. Setiap orang yang dihisapkan sebagai keturunan Abraham, dan yang bersedia menerima perjanjian tersebut harus ditandai dengan sunat (Kejadian 17).

Pemeteraian yang diterima seseorang berhubungan dengan statusnya sebagai anak Allah, sekaligus juga menyatukan setiap orang percaya menjadi keluarga Allah. Dalam hal ini, bisa dimengerti jika 2 Timotius 2:19 mempergunaan istilah meterai, yang dihubungkan dengan kalimat “Tuhan mengenal siapa milik-Nya”. Pemeteraian secara langsung menempatkan orang percaya pada penyatuan tubuh Kristus di dalam gereja yang Am (Universal), dimana Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Perlu mencermati istilah yang dipakai Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, tentang pemeteraian dan istilah lain yang berhubungan dengan Roh Kudus, yaitu :
- Efesus 1:13, meterai Roh (spragizo)
- Efesus 2:22; 3:5, di dalam Roh (en Pneumati)
- Efesus 4:3, kesatuan Roh (ten enoteta tou Pneumato)
- Efesus 4:4, satu Roh (en Pneuma)
- Efesus 4:30, mendukakan Roh (lupeite to Pneuma )
- Efesus 5:18, penuh dengan Roh (plerouste en Pneumati)
Istilah-istilah yang dipergunakan Rasul Paulus dalam suratan tersebut di atas, tidak mencantumkan tentang baptisan Roh Kudus, padahal beberapa murid di Efesus memiliki pengalaman tentang dibaptis Roh Kudus (Kisah Para Rasul 19:1-7). Dengan begitu bisa dipahami bahwa pemeteraian Roh Kudus, baptisan Roh Kudus, dan kepenuhan Roh Kudus merupakan tiga kasus berbeda, namun dikerjakan oleh Roh Kudus yang sama. 

Pemeteraian Roh Kudus secara otomatis diterima oleh setiap orang percaya, saat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dimeteraikan oleh Roh, yang menjadikan orang percaya terikat dalam satu Roh (dimeteraikan sama), dengan begitu mendapatkan hak-haknya serta tanggung jawab sebagai Gereja Tuhan (2 Petrus 2:9). Pemeteraian dilakukan oleh Roh Kudus, ditandai dengan kehadiran Roh Kudus dalam orang tersebut, yang diterima dengan iman. Kehadiran Roh Kudus untuk meyakinkan orang percaya, tentang statusnya sebagai ahli waris, dan menolongnya untuk melakukan tanggung jawab panggilan iman Kristen.

Bila memahami ayat 13 dari Efesus 1 sebagai suatu kesimpulan, bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus Kristus, akan secara otomatis menerima Roh Kudus dalam artian baptisan Roh Kudus, hal itu akan bertentangan dengan fakta dalam Kisah Para Rasul 8:14-17 dan 19:2. Pada saat Lukas menulis peristiwa tersebut, dapat dipastikan ia tidak bermaksud memunculkan suatu kontroversi. Melainkan bertujuan menyampaikan data obyektif, bahwa mempercayai Yesus bukan berarti secara otomatis menerima baptisan Roh Kudus. Memperhatikan Kisah Para Rasul 8:16 dan 19:1-6, dimana karunia Roh diberikan menyusul setelah kelahiran baru, dan nampaknya dapat dilihat dan didengar. Tapi tidak ada landasan untuk menyimpulkan bahwa kuasa karunia Roh dapat dialami tanpa Kristus. Roh Kudus datang kepada orang yang percaya merupakan janji yang dibuat bagi dan oleh Kristus (bnd acuan PL yang mengacu pada Kisah Para Rasul 2:39 yakni Yesaya 54:13; 57:19; Yoel 2:28-32), dan menantikan penggenapannya – bahwa Roh Kudus datang. (J. D. Douglas, t.t.).

Dalam surat yang lain, Rasul Paulus membicarakan teologia “terikat satu Roh”, dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan jemaat Korintus yang terancam perpecahan (1 Korintus 3:1-9). Perlu dicermati perpecahan dapat terjadi bukan saja disebabkan adanya kelompok yang berafiliasi kepada tokoh tertentu, tetapi juga dikarenakan munculnya karunia-karunia Roh Kudus di antara jemaat. Mereka tampaknya telah menampilkan sejumlah pengaruh, karena orang-orang Kristen di Korintus ternyata telah diombang-ambingkan dan dikelompok-kelompokan, meskipun hanya dalam pandangan dan praktek hidupnya. (Willi Marxsen, 1996). Melalui 1 Korintus 12 dapat diketahui tentang Rasul Paulus yang menekankan kesatuan Roh, yang mengikat (memeteraikan), dan tidaklah layak apabila masing-masing anggota jemaat saling berbenturan. Dalam konteks inilah 1 Korintus 12 harus ditempatkan, karena ayat 13 dalam pasal ini tidak membicarakan baptisan Roh Kudus. Meskipun ayat tersebut mempergunakan kata baptis, tetapi pada dasarnya maksud Paulus, hendak mengemukakan bahwa tidak diperbolehkan satu orang, maupun kelompok saling menonjolkan diri lebih dari yang lain, karena sudah “tenggelam” (ebaptisthemen) menjadi satu tubuh. 

Dalam ayat tersebut secara literal sudah jelas, Paulus tidak menyatakan “…, telah dibaptis Roh Kudus” melainkan “…, telah dibaptis menjadi satu tubuh…” yang hendak menekankan pada kesatuannya, dan bukan mengenai baptisan Roh Kudus. Tidak akan didapatkan satu ayat pun, tentang baptisan Roh Kudus yang dihubungkan dengan kesatuan tubuh Kristus. Sangat beralasan jika Rasul Paulus mempergunakan “kita semua”, untuk mencairkan pemahaman jemaat tentang kesatuan, karena masing-masing menonjolkan karunia dan kelompoknya sendiri. Penegasan “diberi minum dari satu Roh”, mengingatkan, bahwa semua karunia yang dapat dinikmati, berasal dari satu sumber yang sama yaitu Roh Kudus, dan bukan berasal dari diri mereka sendiri. 

Menjadi satu tubuh dengan Kristus tidak didasarkan pada baptisan Roh Kudus, melainkan pemeteraian atas dasar kepercayaan kepada Yesus Kristus. Apabila kita konsisten dengan doktrin bahwa gereja adalah tubuh Kristus (Matius 16:16-20), dan orang yang hendak masuk didalamnya hanya dengan mengakui bahwa “Yesus Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”, ia telah menjadi anggota tubuh Kristus, maka sebenarnya tidak perlu menyangsikan keabsahan imannya. Petrus tidak meragukan kepercayaan orang-orang Samaria, sehingga tidak perlu melayani pertobatan mereka kepada Yesus Kristus. Demikian halnya Paulus, tidak mempertanyakan kepercayaan kedua belas orang di Efesus, yang sudah disebut sebagai murid. Kedua Rasul di atas sudah meyakini berdasarkan iman mereka pemeteraian Roh Kudus telah terjadi, tetapi baptisan Roh Kudus perlu dipertanyakan, oleh sebab belum tentu mereka menerimanya. Mustahil seseorang dimeteraikan Roh Kudus, dan mendapatkan hak selaku ahli waris Kerajaan Allah, tetapi tidak secara otomatis dimasukkan sebagai anggota tubuh Kristus. 

Pemeteraian oleh Roh Kudus merupakan tanda, pengesahan secara hukum dimana manusia yang sebelumnya dibawah kekuasaan Iblis, telah dibeli secara tunai melalui pengorbanan Kristus untuk menjadi milik Allah. Dengan begitu arti dari dimeteraikan oleh Roh Kudus adalah pada saat seseorang mempercayai dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, serentak dengan itu Roh Kudus hadir sebagai meterai, yang mengesahkannya menjadi anak Allah, yang dipersekutukan dalam keluarga Allah (Efesus. 1:13; Yohanes. 1:12; Roma 8:1,2,9,14-17). Dan karena itu, ia memiliki hak dan tanggung jawab untuk terikat bersama orang percaya lainnya didalam kesatuan tubuh Kristus.

2. Baptisan Roh Kudus
Kisah Para Rasul mencatat pentingnya peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan dan perkembangan gereja purba, ditengah-tengah berbagai macam hambatan dan tantangan. Begitu pentingnya peranan Roh Kudus, sampai ada yang menamakan kitab Kisah Para Rasul dengan “Kisah Perbuatan Roh Kudus (Sidlow Boxter, 1995). Perihal Roh Kudus ditempatkan dalam bagian awal dari kitab Kisah Para Rasul, menunjukkan betapa strategis dan penting Roh Kudus dalam menunjang pekabaran Injil. Terbukti perkembangan gereja dari jaman para Rasul sampai dewasa ini, dikerjakan oleh Roh Kudus yang dimulai dari baptisan Roh Kudus saat Pentakosta. Jika di seluruh Alkitab dikatakan istilah baptisan Roh Kudus hanya muncul tujuh kali, lalu disimpulkan baptisan Roh Kudus tidak penting (Stephen Tong, 1996), kalau begitu ada berapa banyak istilah “diaken” dalam Alkitab sehingga seluruh gereja perlu memakainya? Bukankah tentang adanya diaken tidak dianjurkan atau diperintahkan di setiap surat dalam Perjanjian Baru? Karena begitu pentingnya peranan diaken dalam gereja membuat para pendeta tidak sembarangan memilih diaken (Stephen Tong, 1996). Melalui ukuran yang demikian, apakah dapat dikatakan Allah menjadi tidak penting, karena tidak disebutkan satu kalipun dalam kitab Ester? 

Petrus tidak ragu-ragu mengutip nubuatan Yoel, untuk dijadikan dasar peristiwa Pentakosta yang ia alami, meskipun nubuatan tentang Roh Kudus dalam Perjanjian Lama tidak banyak dibicarakan oleh para nabi. Istilah baptisan Roh Kudus di dalam Alkitab dapat saja berjumlah sedikit, tetapi penempatannya sangat penting, dan dampak yang dihasilkannya sangat luar biasa. Tuhan Yesus sewaktu berpisah dengan murid-murid-Nya, sesaat akan naik ke sorga, hal penting yang dibicarakan ialah tentang baptisan Roh Kudus, meskipun ada banyak topik yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Timbul pertanyaan, apakah pengalaman orang-orang yang berbahasa roh dalam Kisah Para Rasul, atau di Korintus didasarkan pada doktrin yang alkitabiah, atau mereka menerima begitu saja kejadiannya? Kejadian baptisan Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul yang ditandai bahasa roh, sudah dapat dijadikan bukti otentik, dari tuduhan tidak adanya dukungan alkitabiah terhadap bahasa roh, sebagai tanda baptisan Roh Kudus dewasa ini.

Pemeteraian Roh Kudus berfungsi sebagai tanda legalitas seseorang menjadi Anak Allah, agar dapat dipersatukan dalam kesatuan Tubuh Kristus. Sedangkan baptisan Roh Kudus bermanfaat menguatkan iman yang bersangkutan, untuk melaksanakan tanggung jawab pelayanan pembangunan tubuh Kristus. Melalui baptisan Roh Kudus, setiap orang percaya dibawa agar memiliki pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, sehingga olehnya akan meningkatkan kepekaan terhadap suara dan kehendak Allah. Meskipun demikian, peristiwa baptisan Roh Kudus, tidaklah otomatis menjadikannya manusia sempurna. Realitas baptisan Roh Kudus tidak dapat ditiadakan, hanya karena ada orang yang mengajarkan atau mengakui sudah dibaptis Roh Kudus, ternyata dikemudian hari didapati hidupnya tidak benar. Petrus ditempatkan sebagai tokoh utama di antara para rasul, masih juga ditegur dengan keras oleh Rasul Paulus karena kemunafikannya (Galatia 2:11-14). Tetapi dengan begitu bukan berarti Paulus menuduh Petrus bukan sebagai hamba Tuhan, yang kerasulannya perlu disangsikan, serta menolak baptisan Roh Kudus yang dialami Petrus. 

Menghakimi orang lain dengan menuduhnya sebagai hamba hantu, bukan hamba Tuhan atau istilah yang kasar lainnya adalah lebih mudah, daripada mempercayai Roh Kudus memiliki kemampuan mengubah seseorang. Memang sangat disayangkan jika ada seorang pendeta yang hanya bertemu dengan orang-orang yang mengaku dibaptis Roh Kudus, tetapi memiliki reputasi yang buruk. Seperti Jim Baker, Jimmy Swagart, Oral Roberts, John White, John Wimber disebutkan berulang kali dalam bukunya “Baptisan & Karunia Roh Kudus” (Stephen Tong, 1996), padahal ada begitu banyak hamba Tuhan yang mengalami baptisan Roh Kudus, memiliki hidup benar dalam kekudusan dan dipakai Tuhan secara luar biasa. Pendeta tersebut juga dalam bukunya mengulang-ulang menulis tidak kurang untuk nama Benny Hin 11 kali, Kenneth Hagin 8 kali, Cho Yonggi 4 kali (Stephen Tong, 1996), dalam rangka membangun opini bahwa doktrin Pantekosta atau Kharismatik tidak benar, karena penilaiannya terhadap hamba-hamba Tuhan tersebut buruk. Sementara itu tokoh-tokoh yang dinilai buruk tersebut, tampil sebagai pribadi, dan Pantekosta maupun Kharismatik tidak merasa diwakili oleh mereka. 

Seandainya Lukas memiliki pemahaman bahwa baptisan Roh Kudus diterima bersamaan seseorang menerima Yesus, maka ayat 5 dalam pasal 19 Kisah Para Rasul, tidak perlu dilanjutkan dengan ayat 6. Dengan jelas Lukas membedakan peristiwa baptisan air dengan baptisan Roh Kudus, melalui penumpangan tangan, dimana ayat 5 dan 6 mempergunakan kata sambung “dan” (Yunaninya: Kai). Selanjutnya persoalan pemakaian istilah “Setelah” atau “Ketika”, didalam pertanyaan Paulus kepada kedua belas murid di Efesus tetaplah tidak relefan, jika baptisan Roh Kudus diyakini diterima bersamaan lahir baru. Pertanyaan itu sendiri sudah membuktikan tentang lahir baru yang dialami seseorang, tidak otomatis menerima baptisan Roh Kudus. Dan jika baptisan Roh Kudus diterima dengan iman, seperti halnya menerima korban Yesus Kristus, bagaimana memberikan jawaban yang dapat meyakinkan Paulus atas pertanyaan yang ia lontarkan tersebut? Terbukti saat Paulus mendengar jawaban “belum” dari mereka, Paulus tidak menegaskan “Anda harus percaya bahwa sudah dibaptis Roh Kudus, bersamaan pada waktu anda percaya Yesus”. 

Penggunaan bentuk aorist untuk “menerima Roh Kudus” dalam pertanyaan Paulus tersebut, dimaksudkan menunjuk peristiwa baptisan Roh Kudus, yang mungkin saja pernah mereka alami, dan hal itu hanya sekali serta tidak perlu terulang kembali. Penggunaan bentuk yang sama untuk “ketika kamu menjadi percaya”, hendak menyatakan bahwa Paulus tidak menyangsikan keputusan yang pernah mereka ambil untuk percaya Yesus Kristus (lampau selesai). Dalam hal ini, Paulus sama sekali tidak berbicara tentang baptisan Roh Kudus, dengan pemahaman sudah terjadi saat Pentakosta, yang tidak akan pernah lagi terulang, dan harus diimani terjadi sekali dan selesai. Melainkan baptisan Roh Kudus dapat diterima oleh siapapun, meskipun jauh setelah peristiwa Pentakosta terjadi seperti yang ia pernah alami sendiri.

Pendapat yang menolak Kisah Para Rasul dijadikan norma baptisan Roh Kudus (Caprili Guanga, 1995), selain menjadikan kitab tersebut hanya sebagai sejarah gereja purba, juga menuduh Petrus dan Paulus melakukan pelayanan tanpa didasarkan pada doktrin yang benar. Pada saat Petrus berkhotbah bertitiktolak dari pengalaman Pentakosta, serta memerintahkan supaya orang bertobat, dibaptis lalu menerima karunia Roh Kudus. Dan pertanyaan Paulus “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” dapatkah dikatakan apakah yang mereka berdua lakukan tanpa didasari doktrin (Kisah Para Rasul 2:14-38; 19:1,2) ? Jika kewibawaan rasuli dan pengurapan Roh Kudus ada pada kedua Rasul tersebut, bukankah mereka pantas untuk dipercayai dan diteladani apa yang dilakukannya. 

Tuntutan agar baptisan Roh Kudus ditandai kejadian yang sama, seperti yang dialami Petrus beserta rasul-rasul pada saat Pentakosta. Tidak saja ditandai bahasa roh, melainkan juga dengan lidah-lidah seperti api dan tiupan angin, menunjukkan betapa emosionalnya menyikapi baptisan Roh Kudus yang terjadi dewasa ini. Padahal seperti sudah dikatakan di atas, Petrus menyatakan tentang peristiwa baptisan Roh Kudus yang terjadi di keluarga Kornelius sama dengan peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul 11:15). Meskipun saat baptisan Roh Kudus terjadi, tidak disertai dengan lidah-lidah seperti api, maupun tiupan angin seperti peristiwa di loteng Yerusalem. Caprili Guanga dalam penolakkannya terhadap Kisah Para Rasul dijadikan norma baptisan Roh Kudus, ia menyitir pendapat J. R. W. Stott, yang menyatakan penumpangan tangan dalam baptisan Roh Kudus tidak perlu terjadi saat ini, disebabkan sudah tidak ada lagi orang-orang Samaria maupun murid-murid Efesus (Caprili Guanga, 1995). Jika berpikir yang demikian konsisten diterima, seharusnya Alkitab disikapi hanya sebagai buku sejarah dan bukan firman Allah. Atau keyakinan terhadap Alkitab adalah firman Allah, sangat ditentukan oleh cara pandang dan bagaimana setiap orang menyikapi suatu teks. Sehingga Alkitab menjadi firman Allah atau tidak, terpergantung dari hasil penafsiran. Akibatnya yang terjadi, begitu mudahnya menuduh baptisan Roh Kudus yang dialami seseorang, yang ditandai bahasa roh adalah tidak alkitabiah.

Terminologi baptisan yang dihubungkan dengan Roh Kudus, dipakai pertama kali oleh Yohanes Pembaptis, yang menyatakan bahwa selain baptisan air, ada juga baptisan Roh Kudus dan api (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16). Adanya baptisan Roh Kudus dipertegas oleh Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga sebagai wasiat, bahwa murid-murid-Nya diperintahkan untuk menunggu baptisan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5). Lebih jauh Kisah Para Rasul 2 mencatat tentang baptisan Roh Kudus, sebagai bukti yang dikatakan Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus telah digenapi.

Didalam Matius 3:11; Markus 1:8, dan Lukas 3:16 istilah baptisan mempergunakan istilah Yunani “baptisei”, dan dalam Kisah Para Rasul 1:5; 11:16 mempergunakan “baptisthesesthe” dari akar kata “baptizo” yang artinya “selam”, “celup” atau “ditenggelamkan”. Maksud penggunaan istilah tersebut, adalah hendak menunjukkan adanya perbedaan dengan istilah dimeteraikan, yang ditandai dengan “di cap”. Menjadi Kristen tidak hanya ditandai lahir baru dengan menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan, melainkan ada tanggung jawab untuk berproses menjadi dewasa dalam iman. Karena itu, pengalaman iman Kristen seharusnya tidak merasa cukup puas sampai kepada baptisan air, dan dimeteraikan Roh Kudus, dibutuhkan tahapan berikutnya, yaitu baptisan Roh Kudus. Roh Kudus melaksanakan tugas daya cipta baru, yang mengubahkan seseorang dengan memimpinnya untuk menerima hidup kekal dan sifat Allah. Tetapi Roh Kudus melangkah setapak lebih jauh, dari regenerasi atau kelahiran baru, dan langkah itu ialah baptisan Roh Kudus (Paul Yonggi Cho, 2000).

Penolakan terhadap baptisan Roh Kudus bagi setiap orang Kristen sebagai pengalaman historis dalam Kisah Para Rasul, karena didasarkan alasan dalam surat-suratnya Paulus tidak pernah menasehati agar orang-orang Kristen dibaptis dalam Roh Kudus (Donald Guthrie, 2000). Alasan tersebut tidak dapat dijadikan dasar, sebab jika suatu permasalahan atau kewajiban sudah menjadi pengetahuan umum, atau dilakukan secara luas tidak perlu disuratkan lagi. Sebagai contoh cara penulisan yang demikian, dilakukan Paulus kepada jemaat Tesalonika (1 Tesalonika 4:9). Baptisan Roh Kudus tidak diperintahkan sebagaimana seseorang harus penuh Roh Kudus, karena baptisan Roh Kudus merupakan janji Bapa, mengenai seseorang tidak saja menerima baptisan air, namun juga baptisan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:4,5). Baptisan Roh Kudus merupakan peristiwa yang dinantikan berdasarkan keyakinan terhadap janji Bapa. Mencermati peristiwa Kisah Para Rasul 2, Pentakosta tidak ditunjang oleh upaya para Rasul meminta Roh Kudus supaya membaptis mereka. 

Peristiwa di Samaria (Kisah Para Rasul 8) dan penumpangan tangan untuk Saulus, nampaknya dilakukan dalam suasana percakapan yang datar-datar saja. Apalagi baptisan Roh Kudus yang diterima Kornelius (Kisah Para Rasul 10), tidak terjadi dalam suatu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang gegap-gempita. Bahkan Petrus sama sekali tidak membayangkan hal itu akan terjadi, karena pemahaman teologia Petrus, bahwa orang diluar Yahudi tidak mungkin menerima baptisan Roh Kudus. Untuk menerima janji tersebut, setiap orang diberikan kebebasan menolak atau menerima penggenapannya. Baptisan Roh Kudus diberikan agar setiap orang memiliki pengalaman pribadi dengan Allah, dan semakin efektif dipakai Tuhan. Pengalaman yang dimaksud akan menjadi daya dorong meningkatkan pertumbuhan imannya. Penolakkan diungkapkan juga secara sinis, dengan menyatakan semua orang dalam peristiwa di Kisah Para Rasul 2, 8 maupun 10 menerima Roh Kudus tidak ada yang terkecuali, tidak seperti sekarang ini (Stephen Tong, 1996). Pendapat semacam itu tidak dapat dijadikan dasar untuk membantah adanya baptisan Roh Kudus yang telah terjadi dalam gereja Tuhan. Sebab ukurannya bukanlah sedikit atau banyak, maupun semua atau tidak, Roh Kudus sebagai pribadi bekerja menurut kepentingan-Nya.

I Korintus 12:13 dijadikan dasar baptisan Roh Kudus diterima bersamaan saat kelahiran baru, alasannya didalamnya Paulus menyatakan dalam satu Roh semua telah dibaptis menjadi satu tubuh. Padahal ayat tersebut tidak membicarakan baptisan Roh Kudus, melainkan tentang penyatuan dalam tubuh Kristus, hanya dapat dilakukan oleh Roh Kudus. Suatu sikap yang tidak jujur jika memberikan kesimpulan, baptisan Roh Kudus tidak akan terulang kembali, hanya berangkat dari tensa yang dipergunakan Paulus dalam 1 Korintus 12:13 yaitu bentuk past participle tense (Stephen Tong, 1996). Padahal tensa tersebut tidak dipakai untuk baptisan Roh Kudus, melainkan penyatuan kedalam tubuh Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Maksudnya begitu orang percaya kepada Yesus Kristus, ia telah dipersatukan dengan orang Kristen lainnya dengan meterai yang sama yaitu Roh Kudus. Ayat tersebut harus dilihat dalam konteks karya Kristus, yang menyatukan semua karunia adalah penting dalam kesatuan tubuh Kristus. Dalam hal ini Paulus memberikan penegasan dan penataan, sehubungan munculnya berbagai macam karunia di gereja Korintus. Sebagai perbandingan perlu diperhatikan tensa yang dipakai dalam Kisah Para Rasul 2:3,4 (Nathan E. Han, t.t.) sebagai berikut:
Ayat 2 egeneto (there was) 3p. sing. 2 aor. mid. ind.
pseromenes (rushing) pres. mid. ptc.
eplerosen (it filled) 3p. sing. 1 aor. act. ind.
kathemenoi (sitting) pres. mid. ptc. 
3 ofthesan (appeared) 3p pl. 1 aor. pass. ind
diamerizomenai (tongues-being divided) pres. pass. ptc. 
ekathisen (it sat) 3p. sing. 1 aor. act. ind.
Perhatikan kedua ayat di atas, bentuk ptc (baca: participle) hanya diperuntukkan pada manifestasi kehadiran Roh Kudus yang berbentuk “angin”, “mereka duduk” dan “lidah-lidah api”. Sangat beralasan jika Petrus tidak mempersoalkan baptisan Roh Kudus yang dialami Kornelius, meskipun tanpa disertai tiupan angin dan lidah-lidah api. 

Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa Paulus tidak mempergunakan tensa tersebut untuk membicarakan tentang baptisan Roh Kudus. Jika Paulus memiliki pemahaman baptisan Roh Kudus diterima bersamaan kelahiran baru, maka hal ini akan bertentangan dengan sikapnya dalam peristiwa yang dicatat di Kisah Para Rasul 19:1-6. Paulus membedakan “saat menjadi percaya” dengan “menerima Roh Kudus”, sehingga Paulus merasa perlu menumpangkan tangan, agar kedua belas murid di Efesus dibaptis Roh Kudus setelah dilakukan baptisan air. Mengetahui latar belakang mengapa Paulus mengajukan pertanyaan itu lebih penting, daripada meragukan kesungguhan kekristenan dari kedua belas murid di Efesus. Rupanya Paulus memiliki pendapat yang sama dengan pernyataan Petrus (Kisah Para Rasul 2:38), tentang menerima karunia Roh Kudus, seseorang harus terlebih dahulu dibaptiskan dalam nama Yesus Kristus. 

Pentingnya mengetahui apakah baptisan air merupakan pengalaman yang berbeda dengan peristiwa baptisan Roh Kudus, perlu dilihat kata kerja yang dipergunakan dalam Kisah Para Rasul 1:5 dan 2:38, “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”, Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan memperoleh karunia Roh Kudus”. Dalam ayat di atas “membaptis” dan “dibaptis” mempergunakan kata Yunani “ebaptisen” dan “baptistheto” dengan tensa “aorist” untuk mengungkapkan suatu tindakan telah lampau dan selesai. Sedangkan “dibaptis” dengan Roh Kudus dan “memperoleh” karunia Roh Kudus tensa yang dipergunakan “future”, menyatakan secara gramatikal suatu proyeksi, atau pengharapan dimana tingkat kepastiannya lebih besar, jika dibandingkan modus-modus non-indikatif (Yopy Margianto, 2005). Melihat tensa yang dipergunakan untuk baptisan air dan baptisan Roh Kudus, serta menerima karunia Roh Kudus tersebut di atas, dapat diketahui bahwa baptisan air merupakan peristiwa yang berbeda dengan baptisan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus dapat didefinisikan sebagai berikut: “Dimana seseorang setelah lahir baru, mengalami suatu peristiwa Ilahi, karena pekerjaan Roh Kudus, yang ditandai dengan munculnya mujizat bahasa, berupa bahasa roh atau bahasa asing yang sebelumnya belum pernah dipelajari” (Kisah Para Rasul 2:4; 8:18; 10:44-46; 19:6; 9:17 band. 1 Korintus. 14:18; 10). 

Urutan yang dibuat Petrus sangat jelas, karunia Roh Kudus diterima setelah seseorang dibaptis dalam nama Yesus, hal itu yang mendasari kunjungan ke Samaria menemui orang-orang yang telah dibaptis (Kisah Para Rasul 8:14). Maka dari itu, kejadian di rumah Kornelius mencengangkan Petrus, tidak saja karena orang kafir dapat menerima keselamatan, melainkan karunia Roh Kudus diterima sebelum mereka dibaptiskan (Kisah Para Rasul 10:45). Dalam peristiwa di rumah Kornelius, orang yang menerima khotbah Petrus saat itu langsung dilahirkan baru, dan dilanjutkan dengan baptisan Roh Kudus. Barulah kemudian dilaksanakan baptisan air, sebagai bukti kepercayaan dan ketaatan mereka. Kalau bertumpu pada kebenaran Roma 10:17, bahwa iman datang dari mendengar firman Allah, dapat dipastikan saat Petrus menyampaikan berita Injil, iman bertumbuh dalam hati Kornelius. Kepercayaannya itulah yang menjadi dasar Roh Kudus memeteraikannya menjadi anak Allah, sehingga selanjutnya baptisan Roh Kudus dapat mereka alami.

Perbedaan meterai Roh Kudus dan baptisan Roh Kudus terletak pada kepemilikan dan hubungan pribadi dengan Sang Pemilik. Meterai Roh Kudus diterima dengan iman bersamaan kelahiran baru, yang melaluinya ia diyakinkan atas statusnya yang baru sebagai anak Allah. Sedangkan baptisan Roh Kudus, merupakan pengalaman pribadi yang dikerjakan oleh Roh Kudus, agar melaluinya ia merasakan kehadiran Allah secara pribadi untuk membangun imannya. Pemeteraian Roh Kudus tidak pernah dipertanyakan oleh para rasul “Sudahkah kamu di meteraikan oleh Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?”. Sebab pemeteraian dalam Roh Kudus, langsung diterima pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan menjadi Juruselamat. Pemeteraian Roh Kudus tidak memerlukan tanda, karena diterima dengan iman, hanya saja harus ditindak lanjuti dengan baptisan air didalam nama Tuhan Yesus Kristus. Sangat beralasan jika Paulus mempertanyakan baptisan murid-murid di Efesus, dilakukan atas dasar apa setelah mereka lahir baru (Kisah Para Rasul 19:1-6). 

Lain halnya dengan baptisan Roh Kudus perlu dipertanyakan, sehubungan baptisan Roh Kudus dapat dirasakan dalam suatu pengalaman dengan tanda tertentu sebagai pembuktiannya. Tidak ada satu ayat pun yang menegaskan bahwa baptisan Roh Kudus, diterima dengan iman serentak pada saat orang lahir baru. Karena ada yang menghubungkan baptisan Roh Kudus diterima dengan cara seperti seseorang menerima korban Kristus (Stephen Tong, 1996). Jikalau pendapat tersebut benar, tentu tidak perlu ada pertanyaan apakah seseorang sudah dibaptis Roh Kudus apa belum ketika percaya kepada Yesus Kristus. Dan cukup saja dikatakan “Percayalah Anda sudah dibaptis Roh Kudus bersamaan peristiwa Pentakosta yang dialami para rasul, seperti Anda telah menerima pengorbanan Yesus yang telah disalibkan ribuan tahun yang lalu”. Memang sangat disayangkan, pemahaman tersebut tanpa didukung satu ayatpun, yang menyatakan baptisan Roh Kudus diterima orang Kristen sepanjang jaman, bersamaan dengan peristiwa Pentakosta yang dialami para Rasul. Tetapi mengabaikan bukti-bukti dalam Alkitab, dimana seseorang yang telah lahir baru dalam pertumbuhan iman, selanjutnya perlu menerima baptisan Roh Kudus. 

3. Kepenuhan Roh Kudus
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama mencatat dua peristiwa kepenuhan Roh. Dalam Perjanjian Lama Saul dan suruhannya kepenuhan Roh, akibat secara tidak sengaja ditransfer sekumpulan nabi yang sementara kepenuhan Roh (1 Samuel 10:10; 19:20). Dalam kasus tersebut tidak diceritakan lebih jauh, dampak selanjutnya bagi orang yang mengalami kepenuhan Roh. Kemungkinan besar kisah tersebut hendak mengajarkan, betapa kuat pengaruh urapan dari para nabi yang dipenuhi Roh. Perjanjian Baru menyatakan Petrus penuh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:9), dan Rasul-rasul beserta jemaat sementara berdoa dipenuhi Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:31). Pengalaman baptisan Roh Kudus, menjadikan seseorang memiliki potensi lebih besar untuk dipenuhi Roh Kudus, agar memiliki kualitas hidup Kristen yang benar. Rasul Paulus sengaja menghubungkan larangan mabuk anggur, dan perintah untuk kepenuhan Roh Kudus. Rupanya pada waktu itu, kecenderungan orang untuk berusaha melupakan permasalahan yang dihadapi dengan mabuk. Meskipun harus diakui tidak sedikit orang Kristen dewasa ini, bergaul akrab dengan minuman yang beralkohol seperti “cap tikus”, “topi miring”, “tuak” dst. Bahkan konon ada pengkhotbah yang tidak dapat melaksanakan tugasnya, manakala tidak menegak minuman beralkohol terlebih dahulu. Mabuk berdampak negatif, sedangkan dipenuhi Roh Kudus berdampak positif, tidak saja untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain. Dengan demikian nasehat tersebut, merupakan penangkal positif agar tidak mabuk anggur (Donald Gutrie, 2000). Sekaligus mengingatkan “adalah lebih baik terikat pada Roh Kudus, daripada terikat dengan minuman yang memabukkan”. 

Rasul Paulus menganggap kepenuhan Roh Kudus, atau dipenuhi Roh Kudus merupakan hal yang teramat penting, sehingga ia memerintahkan jemaat supaya dipenuhi Roh Kudus (Efesus 5:18). Penjelasan dipenuhi dengan Roh Kudus, Paulus mempergunakan istilah “plerousthe” dari kata “pleroo”, gagasan dari kata tersebut adalah “kontrol”. Manakala dihubungkan dengan Roh Kudus, artinya Roh Kudus selalu ada dalam hati sebagai satu-satunya pribadi, yang secara terus menerus mengontrol dan menguasai hidup orang percaya (Fritz Rienecker, 1976). Itu berarti kepenuhan Roh Kudus, dimana seseorang secara terus menerus rela dikontrol serta dikuasai Roh Kudus dalam seluruh aspek kehidupan. Baptisan Roh Kudus hanya terjadi sekali dan tidak terulang kembali, sedangkan kepenuhan Roh Kudus diterima secara terus menerus, terpergantung ketaatan dan kerelaan seseorang untuk dikuasai Roh Kudus. Kepenuhan Roh Kudus ada upaya dari pihak manusianya, karena itulah rasul Paulus memberikan dalam bentuk perintah agar dipenuhi Roh Kudus. Dengan begitu ia tidak mendukakan Roh Kudus, sehingga dihasilkan kehidupan Kristen yang berkualitas. Penjelasan Paulus dalam hal ini juga mempergunakan “dipimpin oleh Roh”, dimana dengan begitu akan menghasilkan buah Roh bagi seseorang yang dipimpin Roh (Galatia 5:1-26). Buah Roh tidak dihasilkan dari meterai Roh maupun baptis Roh, melainkan melalui kepenuhan atau dipimpin oleh Roh Kudus.

Lukas dalam tulisannya di Kisah Para Rasul menyebutkan mengenai Petrus yang tidak terpelajar tetapi kepenuhan Roh Kudus, dengan berani menjadi saksi di hadapan para pemimpin agama Yahudi. Demikian pula para Rasul dan murid-murid akibat kepenuhan Roh Kudus, memberitakan firman Allah tanpa rasa takut, meskipun dalam situasi yang tidak menguntungkan (Kisah Para Rasul 4:1-22). Membuktikan kepenuhan Roh bersentuhan langsung dengan produktifitas iman Kristen (Yohanes 15:1-7), dan hal itu sebagai manifestasi dari kuasa Allah yang bekerja didalam orang yang dikuasai Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8). Maka “dipenuhi” Roh Kudus berarti orang Kristen dipengaruhi Roh dengan cara dan menurut taraf sedemikian rupa, sehingga Ia menjadi kuasa yang dominan dalam kehidupan. Roh Kudus membuat orang percaya hidup dan berlaku, kadang kadang dengan cara yang khususnya menunjukkan kehadiranNya, dan umumnya sedemikian rupa sehingga Allah dimuliakan di dalam dia (Efesus 5:19,20) (Bruce Mile, 273).

Ketiga langkah karya Roh Kudus didalam kehidupan orang percaya, masing-masing memiliki fungsinya. Pemeteraian RohKudus diterima seseorang yang percaya pada Yesus, sebagai tanda milik Allah yang memungkinkannya menjadi anak Allah. Baptis Roh merupakan peristiwa supaya orang percaya memiliki pengalaman dengan Allah, dan yang menjadikannya semakin efektif dipakai Tuhan. Sedangkan kepenuhan Roh, dimana orang percaya secara totalitas rela dipimpin Roh Kudus, sehingga dapat menghasilkan buah Roh. Iman Kristen tidak hanya berhenti pada pemeteraian oleh Roh Kudus dan menerima keselamatan, namun memiliki tanggung jawab untuk melangkah sampai pada tahapan baptis Roh dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

ALASAN MENGAPA ORANG KRISTEN HARUS BERHENTI MEROKOK

Beberapa waktu yang lalu organisasi keagamaan Mohamaddiyah mengeluarkan fatwa, mengharamkan seseorang yang merokok, yang ditanggapi secara beragam oleh berbagai kalangan baik perorangan maupun lembaga. Artikel ini ditulis bukan dimaksudkan untuk ikut hirukpikuk dalam polemik terhadap fatwa tersebut, melainkan penulis telah menulis artikel ini hampir empat tahun yang lalu, yang baru diketemukan terselip diantara sekian banyak artikel maupun peper perkuliahan. Tulisan ini diharapkan menjadi bahan perenungan, dan bukannya untuk diperdebatkan, hanya sekedar untuk memaafkan diri sendiri, atau untuk maksud-maksud tertentu yang tidak kudus oleh para perokok.

Dari sekian banyak akibat yang harus ditanggung oleh seseorang sebagai perokok, harian pagi “Jawa Pos” medio Nopember 2006 menuliskan, bahwa 1 sampai 10 batang rokok yang dihisap perhari dalam jangka 10 sampai 20 tahun, beresiko terkena kanker paru-paru hingga 15 kali. Dan resiko akan meningkat 40 kali lipat pada perokok 20 sampai 30 batang perhari. Meskipun demikian, ada banyak alasan yang dibuat oleh para perokok, untuk mempertahankan dalam menikmati asap rokok. Alasan yang mereka buat diyakini seperti meyakini kebenaran ayat dalam Alkitab, sehingga untuk itu rela mengorbankan hidupnya. Bahkan Alkitab dijadikan dasar tindakannya, dengan menyatakan tidak ada satu ayatpun yang melarang orang untuk merokok. Sementara itu, Alkitab tidak juga memberikan dukungan satu ayatpun yang mengijinkan untuk merokok.

Alasan perokok yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan, “Jika Allah melarang orang merokok, mengapa tumbuhan tembakau harus diciptakan?”. Pertanyaan tersebut sementara menuduh Allah sebagai biang keladi yang menyebabkan orang merokok, dan terlalu yakin bahwa tanaman tembakau diciptakan Allah supaya orang jadi perokok. Menghindari kesalahan dengan mengalihkan kepersoalan orang lain, “Kalau mau disalahkan ya penjual rokok, sebab saya merokok karena ada yang menjual”. Itu sama halnya saat Tuhan bertanya”Mengapa kamu memakan buah terlarang itu?” kepada manusia pertama, dan Adam menyalahkan Hawa isterinya, sementara isterinya menyalahkan ular. Tetapi pelanggaran tetaplah pelanggaran yang harus menerima sangsi, karena manusia diberikan akal dan nurani, untuk mempertimbangkan sebelum melakukan suatu tindakan. Ada pula yang menjadikan pembenaran untuk merokok, dengan alasan karena pemerintah memberikan ijin produksi terhadap pabrik rokok. Padahal pemerintah dalam menentukan kebijakan tidak didasarkan pada kebenaran Alkitab, melainkan politis, ekonomis, sosiologis, dan pragmatis. Seperti halnya pemerintah memberikan tempat untuk ”buka praktek” kepada para wanita pekerja seks komersial (PSK) yang disebut ”lokalisasi”, tidak sebagai pembenaran supaya orang percaya pergi ke tempat praktek tersebut.

Memahami ayat Alkitab tidak saja seperti yang tertuang secara literal, melainkan juga ayat dapat bermakna secara tersirat, walaupun untuk itu tidak dapat mengabaikan konteks. Oleh karena itu, untuk menjawab diperbolehkan atau tidak, orang percaya mengkonsumsi rokok berdasarkan Alkitab, terlebih dahulu perlu diketahui dampak yang diakibatkan oleh rokok.
1. Berhala
Rokok memiliki daya ikat (baca:kecanduan) yang membuat seorang perokok diperbudak olehnya, yang mengharuskannya untuk terus mengkonsumsi rokok. Keterikatan terhadap rokok nampak pada saat tidak merokok dalam waktu tertentu, dan ketagihan yang menuntutnya untuk merokok ditandai dengan kepalanya akan merasa pusing, mulut masam, perasaan gelisah, sulit untuk berpikir atau tidak bisa konsentrasi, dst. Bahkan ada yang lebih baik tidak makan, namun ia tetap bisa merokok. Kondisi semacam itu tentu saja merupakan keterikatan yang secara psikologis adalah tidak baik. Keterikatan yang demikian membuatnya ia telah diperbudak, dan rokok telah menjadi berhala baginya. Kalau firman Tuhan memerintahkan tidak boleh menjadi “hamba uang” (Ibrani. 13:5), sama artinya kita tidak boleh menjadi “hamba rokok”.
Ingat, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10).
2. Merusak
Kandungan racun yang terdapat dalam rokok, secara medis berakibat buruk terhadap kesehatan, ada banyak kerusakan yang ditimbulkannya. Diantaranya ada beberapa yang ditulis di kemasan bungkus rokok yaitu: kanker, serangan jantung, kerusakan paru-paru, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.
Ingat, ”Tubuh orang percaya telah dibeli oleh Yesus Kristus dan menjadi rumah Roh Kudus, karena itu barang siapa yang merusak tubuh akan dibinasakan oleh Allah.” (1 Korintus 3;16).
3. Tindakan bunuh diri
Dengan kandungan zat yang memiliki daya perusak dalam rokok, tentu saja dapat mempersingkat usia organ tubuh, dan hal itu sama saja melakukan bunuh diri secara perlahan-lahan (eutanasia).
Ingat, ”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” (1 Korintus 6:20).
4. Perbuatan tidak baik
Merokok tidak saja merugikan diri sendiri, melainkan secara tidak langsung mendatangkan kerugian terhadap orang lain juga. Sebab selain mencemari lingkungan, ternyata orang yang menghirup asap yang dikeluarkan oleh orang yang merokok lebih berbahaya (perokok pasif). Tentu saja tindakan seperti itu tidaklah terpuji, dan tidak pantas untuk ditiru.
Ingat, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17).
5. Egois
Kenikmatan yang diperoleh saat merokok dengan merugikan orang lain seperti tersebut di atas, merupakan perbuatan yang mementingkan diri sendiri (egois). Seorang ayah yang sementara menikmati rokok, dan anaknya yang berumur 10 tahun mengikuti apa yang dilakukannya, ia berusaha keras melarang apa yang dilakukan anaknya dengan berbagai dalih. Kalau merokok sebagai tindakan yang benar dan enak untuk dikosumsi, upaya melarang agar anaknya tidak merokok merupakan sikap yang egois.
Ingat, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4).
6. Membeli masalah
Sudah jelas pada kemasan bungkus rokok dicantumkan akibat buruk dari rokok (padahal belum semua dicantumkan), dengan membeli rokok itu artinya sama saja membeli masalah. Membeli racun yang kemudian dimasukan kedalam tubuh, dan setelah mengalami kerusakan sehingga mengalami sakit, maka harus dikeluarkan dana lagi untuk biaya pengobatan. Padahal ada banyak yang lebih penting yang membutuhkan dana, dari pada untuk membeli racun yang dikonsumsi dan biaya pengobatannya.
Ingat, “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik (tentu bukan rokok) dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat” (Yesaya 55:2).
7. Contoh yang buruk
Dengan keenam hal di atas seorang perokok telah menjadi contoh yang tidak baik, tidak saja bagi anak-anaknya bahkan bagi orang lain juga.
Ingat, “Barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (Markus 9:42).

Para perokok berusaha membuat pembelaan diri untuk mendukung tindakannya, sebagai cara untuk melindungi diri dari ketidakmampuannya melepaskan belenggu rokok yang memperbudaknya. Sementara para mantan perokok menyatakan, bersyukur dimana dirinya telah dapat terlepas dari ikatan rokok, yang menjadikannya hidup lebih sehat, tidak menderita, dan memiliki kebebasan untuk melayani Tuhan. Seorang perokok yang ingin berhenti dari kebiasaannya, terlebih dahulu harus mengakui bahwa merokok merupakan tindakan yang tidak benar. Selanjutkan bulatkan tekad dengan menyatakan “saya harus berhenti merokok, sebelum rokok menghentikan saya!”. Meyakini Tuhan menolong dengan memberikan kekuatan untuk lepas dari diperbudak rokok. Terakhir, programkan langkah-langkah konkrit untuk mengatasi kebiasaan merokok, dan mengkondisikan hidup sehat. Oleh sebab hidup sehat merupakan kehendak Allah, yang harus diupayakan dengan disiplin dan konsisten.

ELI LAMA SABAKHTANI: APA ARTINYA? BUKTI BAHWA YESUS BUKAN TUHAN?


Mobil tanpa sopir (driverless) telah diuji coba sejauh 482.803,2 kilo meter tanpa kecelakaan, dan telah dipatenkan kata Chris Urmson pemimpin ahli mesin untuk Google (Liputan6.com). Mengendarai mobil tanpa sopir tinggal memprogram tujuan yang akan di datangi, lalu penumpangnya dapat tidur dengan nyenyak. Sistem computer yang dihubungkan dengan satelit yang akan mengendalikan mobil untuk mengantar sampai di tujuan. Pada waktu itu hanya orang yang berpikir primitif yang mempertanyakan, sopir yang lagi tidur bagaimana mungkin kendaraan akan sampai di tujuan.
Polemikus Islam memahami Matius 27:47 yang berbunyi: “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, yang menimbulkan pertanyaan jika Yesus itu Tuhan lalu Tuhan yang mana lagi yang dipanggil, lalu mengapa memanggil Tuhan yang justru membuktikan Yesus dan Tuhan tidaklah menyatu, dan siapa yg berani mencabut nyawa Tuhan, selanjutnya jika Yesus dipersiapkan oleh Tuhan untuk mati di kayu salib dalam rangka untuk menebus dosa, tentu tidak perlu dia harus berteriak-teriak minta tolong kepada Tuhan dia harus ikhlas. Jika Yesus Tuhan, ketika dia mati selama 3 hari 3 malam, siapakah yang mengendalikan alam semesta ini? Bukankah setiap yang berseru memanggil Tuhan pasti bukan Tuhan, dan Yesus berseru memanggil-manggil Tuhannya itu berarti Yesus bukan Tuhan.
Yesus memanggil "Allah-Ku Allah-Ku" kepada Allah Bapa-Nya, yang sudah sewajarnya dalam peran-Nya sebagai manusia saat mengalami penderitaan memanggil kepada Allah, dan bukannya mengucapkan kata-kata hujatan seperti penjahat yang disalib di sebelah-Nya. Apakah Polemikus Islam rela kalau dikatakan al-Quran bukan firman Allah hanya buku biasa oleh sebab bisa dibakar? Dalam hal ini Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filp. 2:6-8). Yesus perwujudan dari firman Allah yang turun (nuzul) menjadi manusia memang bukan Allah, tetapi Yesus sehakekat dengan Allah dalam kapasitas-Nya sebagai firman Allah makanya disebut Tuhan.
Dalam peristiwa penyaliban tidak ada yang mencabut nyawa Yesus, seperti dalam pemahaman Islam orang mati karena nyawanya dicabut oleh malaikat Izrail. Memang tidak ada satu malaikatpun yang berwenang mencabut nyawa Yesus, karena itu dalam kematian Yesus dikatakan: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." (Luk. 23:46). Adapun teriakan Yesus saat disalib sudah cukup jelas Dia tidak minta tolong, Yesus ikhlas melakukannya dengan mengatakan "sudah genap" saat disalib, dan "Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu" saat berdoa di taman Getsemani. Yesus sangat tahu untuk apa Dia datang ke dunia, sebab tidak kurang dari tiga kali mengucapkan jikalau diri-Nya harus mati disalibkan (Mat. 16:21, 17:23, 20:19,26:2).
Pertanyaan Polemikus Islam didasarkan pada pemahaman bahwa: Jika Yesus Tuhan dan ketika Dia mati selama 3 hari 3 malam, siapakah yang mengendalikan alam semesta ini? Logika seperti itu sama hal pada saat firman Allah turun (nuzul) menjadi kitab yang disebut al-Quran, lalu apakah Allah di dalam surga menjadi bisu tidak lagi dapat berfirman. Logika yang demikian memahami Allah yang Maha Besar dengan ukuran manusia yang terbatas. Sebab sewaktu Allah menciptakan langit dan bumi dengan berfirman "Jadilah" (kunfayakun), maka firman yang diucapkan Allah telah menciptakan, dan sekaligus menjadi hukum yang mengatur apa yang diciptakan-Nya. Sehingga Allah tidak terus menerus berfirman hanya untuk mengendalikan alam semesta, seperti sebuah generator yang harus mesinnya terus bersuara agar lampu tetap menyala. Demikian halnya sewaktu firman Allah "diam" dalam kematian Yesus, tidak berarti Allah lalu kehilangan kendali dalam mengontrol alam semesta.
Jadi Yesus adalah firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, kalau Ia menampilkan ekspresi yang bertentangan dengan Ketuhanan-Nya, pertanda Ia benar-benar telah menjadi manusia. Sedangkan kemanusiaan Yesus tidak mengurangi sedikitpun Ketuhanan-Nya selaku firman Allah, sebagaimana Polemikus Islam meyakini al-Quran sebagai firman Allah, yang tidak berkurang hakekatnya sebagai firman Allah, oleh karena kertas dan tinta yang dipakai untuk menulis sehingga menjadi kitab. Selamat berpikir dan merenungkan.

YESUS ADALAH TUHAN ALLAH DAN MANUSIA


Ada anekdot lama yang bercerita mengenai orang Arab penjual kain, dimana untuk menarik pembeli dibuat tulisan "Ditanggung tidak luntur". Pada suatu hari ada pembeli yang protes karena kain yang dibelinya ternyata luntur. Si Arab dengan entengnya menjawab: "Pokoknya anda yang salah tidak bisa protes, sudah tahu saya orang Arab sebagai penjual seharusnya tulisan itu dibaca dari kanan ke kiri". Si Arab lupa kalau tulisan bahasa Indonesia membacanya dari kiri ke kanan, tidak peduli yang menjual atau yang menulis orang Arab sekalipun. Memang menyedihkan, kalau ada orang yang menyalahkan orang lain berdasarkan "prinsip pokoke".
Polemikus Islam menuduh Ketuhanan Yesus merupakan ajaran gereja dan bukan ajaran Yesus, ajaran tersebut menaikkan status kemanusiaan Yesus menjadi Tuhan, dengan menyatakan kalau Yesus seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Prosentase yang dikemukakan tanpa didukung ayat-ayat Alkitab, hanya didasarkan pada argumen-argumen yang tidak masuk akal. Sebaliknya ada banyak ayat dalam Alkitab yang dapat dijadikan bukti, jikalau Yesus hanya seorang manusia biasa yang dipakai oleh Allah untuk menjadi seorang nabi.
Alkitab secara harfiah tidak menggunakan kata seratus persen untuk Ketuhanan maupun kemanusian Yesus, itu hanya istilah yang dipakai untuk merangkum seluruh penjelasan mengenai eksistensi Yesus. Dengan begitu tidak adanya kata seratus persen, lalu tidak bisa disimpulkan ajaran Ketuhanan dan kemanusiaan Yesus tidak ada, seperti karena kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab disimpulkan Tritunggal bukan ajaran Alkitab. Penggunaan seratus persen padanan untuk sejati, sebagai perlawanan terhadap konsep bahwa Yesus setengah Allah dan setengan manusia, merupakan ajaran yang dinamakan Arianisme dengan tokohnya yang bernama Arius.
Bukti kesejatian kemanusiaan Yesus dalam Alkitab sangat jelas, dari proses saat dikandung oleh Maria, dilahirkan lalu dalam usia delapan hari disunat, merasa lapar dan haus, tidur, berdoa, takut, menderita dan mati. Dalam kesejatian kemanusiaan Yesus dipanggil sebagai anak tukang kayu, orang Nazaret, guru, nabi, dan juga dihina, diragukan, difitnah, dihakimi, disiksa, disalibkan dan mati. Kesejatian kemanusiaan Yesus dibutuhkan karena dalam rangka menebus manusia yang berdosa, sebagaimana karena satu manusia Adam seluruh manusia terikat sistem atau hukum dosa, demikian juga karena satu manusia Yesus seluruh manusia dibebaskan dari sistem atau hukum dosa (Rm. 5:15; 1 Kor. 15:22).
Demikian juga Alkitab memberikan data mengenai kesejatian dari Ketuhanan Yesus, dimana sewaktu dikandung oleh Maria malaikat berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Mat. 1:20), dan malaikat juga menegaskan: "Yesus disebut kudus Anak Allah" (Luk. 1:35). Ketuhanan Yesus diakui-Nya dalam Yohanes 13:13: "sebab memang Akulah Guru dan Tuhan". Dan hal itu dibuktikan dengan otoritas yang dimiliki-Nya untuk mengampuni dosa (Mrk. 2:5), menjamin orang masuk surga (Luk. 23:43), memberikan kunci Kerajaan surga kepada orang lain (Mat. 16:19) dan memegang kuasa di bumi dan di surga (Mat. 28:18). Tidak ada seorangpun bahkan nabi yang memiliki keunikan yang demikian, yang menunjukkan Yesus adalah Tuhan yang sejati.
Polemikus Islam jikalau tidak ngotot dengan "prinsip pokoke" seperti kisah tentang orang Arab di atas, tentu akan dapat memahami kesejatian kemanusian dan Ketuhanan Yesus, dengan bukti yang tertulis di dalam Alkitab seperti yang telah diuraikan. Biasanya akan berkelit dengan mengatakan ayat-ayat yang dikutip sudah dipalsukan, tetapi ia sendiri tidak memiliki ayat-ayat Injil yang asli selain Injil palsu Barnabas yang dianggapnya asli. Jadi yang jelas uraian di atas, telah membuktikan bahwa di dalam Alkitab tentang Yesus seratus persen (sejati) manusia dan seratus persen Tuhan didukung oleh ayat-ayat Alkitab. Selamat berpikir dan merenungkan.

MENJAWAB TUDUHAN TERHADAP KRISTEN: YESUS BUKANLAH TUHAN. YESUS BUKANLAH ALFA DAN OMEGA


Bejo menasihati temannya dengan semangat: "Kamu itu jangan cuma mimpi, tetapi harus bermimpi untuk meraih masa depan yang berhasil". Maksudnya dengan bermimpi tertuang dalam kalimat "Make your dreams come true", yang membuat seseorang tetap bergairah untuk meraih apa yang diinginkan, tanpa terpengaruh dengan segala bentuk gangguan. Sedangkan orang yang cuma mimpi menginginkan sesuatu tetapi tidak melakukan apapun, yang diliputi kekuatiran tanpa dapat melihat adanya harapan, dengan kecenderungannya selalu menyalahkan orang lain.
Polemikus Islam menolak ayat dalam Wahyu 1:8 yang menyatakan: "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (band. Why. 21:6, 22:13) sebagai bukti ayat pendukung dari Keilahian-Nya. Penolakkan tersebut didasarkan pada tuduhan kalau kitab Wahyu bukanlah firman Tuhan, melainkan merupakan catatan Yohanes dari semua mimpi yang diperolehnya saat di pulau Patmos. Polemikus Islam mempertanyakan: "Bagaimana mungkin mimpi dapat dijadikan dasar dalam berkeyakinan, yang akan ikut menentukan baik buruknya kehidupan di masa yang akan datang?".
Menuduh pewahyuan yang diterima oleh Yohanes di pulau Patmos sebagai mimpi merupakan ironi, dikarenakan Islam juga meyakini pewahyuan yang diterima Muhammad di gua Hira, atau andaikan yang menyatakan sebagai mimpi orang atheis yang rasionalis masih masuk akal. Tuduhan tersebut seolah Islam tidak meyakini jika mimpi memiliki pesan, padahal dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhorri, diceritakan sewaktu selesai salat Muhammad bertanya kepada yang ikut salat: "Siapa di antara kalian yang bermimpi tadi malam?". Sewaktu mendengar mimpi yang diceritakan seseorang Muhammad berkata: "Sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala" (Shahih Muslim no. 4220). Sebagai fakta bahwa mimpi memiliki makna khusus, karena Muhammad juga menceritakan mimpinya lebih dari satu kali.
Dalam Wahyu 11:3-9 diceritakan menjelang akhir zaman, akan turun dua orang nabi yang memiliki kuasa luar biasa, namun pada akhirnya dua nabi tersebut akan dibunuh. Sedangkan mengenai mayat mereka dalam ayat 9 dikatakan: "Dan orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, melihat mayat mereka tiga setengah hari lamanya dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan". Ayat 9 sedang menunjukkan untuk dapat menggenapi kebenaran cerita tersebut, harus tersedia perangkat satelit dan televisi untuk dapat orang dari segala bangsa, suku, bahasa dan kaum, melihat mayat mereka di Timur Tengah dalam tiga setengah hari.
Melalui salah satu bukti di atas keakuratan yang ditulis dalam kitab Wahyu tidak perlu diragukan (walaupun Polemikus Islam menuduh sebagai catatan mimpi), dengan begitu pengakuan Yesus "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." yang diterima Yohanes bisa dipercaya kebenarannya. Dan pernyataan Yesus tersebut tidak bertentangan dengan hakekat-Nya sebagai firman Allah, karena Alfa berhubungan dengan "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Kej. 1:1-3; Yoh. 1:1), sedangkan Omega seperti yang Yesus katakan: "firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman." (Yoh. 12:48).
Polemikus Islam mencoba dengan berbagai macam cara untuk mengingkari Keilahian Yesus, dengan memfitnah Injil tidak ditulis oleh para murid Yesus, menuduh Paulus sebagai pendiri agama Kristen dan kitab Wahyu hanya catatan dari mimpi Yohanes, semua itu tidak akan menghentikan iman orang Kristen. Seperti orang Islam tetap mempercayai al-Quran walaupun Salman Rusdi menuduhnya sebagai ayat-ayat Setan. Tetapi kelebihan iman Kristen dibangun berdasarkan nama Yesus Kristus, yang tetap berkuasa untuk mengusir Setan, menyembuhkan orang sakit dan memberikan jaminan keselamatan (Ibr. 13:8). Itulah bukti Yesus benar-benar Alfa dan Omega sebagaimana pengakuan-Nya, sekaligus yang hendak menunjukkan diri-Nya adalah Tuhan. Selamat berpikir dan merenungkan.

Minggu, 28 Februari 2016

MEMBAHAS TENTANG "INJIL BARNABAS": INJIL BARNABAS BUKANLAH INJIL (Tulisan dari Pdt, Daniel Heruyono Blitar Jawa Timur)

Dalam pembahasan mengenai Injil Barnabas Kibahe (Ki Bagus Heruyono-alias Pdt. Daniel Heruyono) memakai Injil Barnabas terjemahan dalam bahasa Indonesia, cetakan revisi 30 Juli 1996 yang diterbitkan oleh Mutiara Ilmu Surabaya dengan editor Drs. HM. Baharun SH. Dengan diberi kata sambutan oleh Rektor IAIN "Sunan Gunung Jati Bandung KH. Anwar Musaddad dan Prof. Abdul Kahar Muzakkir Dekan Fakultas Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, sedangkan mukaddimah ditulis oleh Dr. Kholil Saadah dan Sayid Muhammad Rasyid Ridha selaku penyebar Injil Barnabas. Setelah membaca Injil Barnabas sangat disayangkan kalau para cendekiawan di atas, memberikan kata sambutan atau mukaddimah tanpa mempelajari terlebih dahulu Injil Barnabas dengan cermat, karena gelar akademis yang mereka sandang menjadi taruhannya untuk ketidakbenaran Injil Barnabas.

KERANCUAN INJIL BARNABAS
Barnabas sebagai penulis injilnya kalau memang benar merupakan rasul dari Yesus, seharusnya ia mengimani pernyataan Yesus: "Demi Allah yang aku berdiri di hadapanNya, bahwa sebenarnya aku ini bukanlah Mesias yang sedang dinantikan..." (Psl. 96:8), tetapi dalam pasal 1:1 ia menulis "Barnabas rasul Yesus orang Nazaret yang bergelar Al-Masih...". Kristus (Kristou) dari bahasa Yunani sedangkan Masih (Mashiah) dari bahasa Ibrani dimana keduanya memiliki arti "yang diurapi". Dengan begitu dapat diketahui kalau Barnabas bukanlah orang Israel, yang hidup sezaman dengan para Rasul murid Yesus, sebab tidak masuk akal kalau tidak mengetahui arti dari Kristus dan Mesias.

AYAT-AYAT YANG ANEH DALAM INJIL BARNABAS
Pasal 3:1 menunjukkan kesalahan sejarah dimana disebutkan kalau Pilatus sebagai seorang hakim, faktanya ia memiliki kedudukan sebagai gubernur yang menjabat sekitar tahun 29 Masehi. Pasal 20:1 merupakan kesalahan geografi yang menyebutkan Yesus naik ke sebuah kapal untuk berlayar ke Nazaret, dipertegas dalam ayat 9 para pelaut sesampainya di Nazaret menyiarkan apa yang dilakukan Yesus, padahal Kibahe sudah dua kali ke Nazaret tempatnya bukan di tepi laut justru di dataran tinggi sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Kebalikannya dalam padal 21:1 dikatakan kalau Yesus mendaki ke kota Kapernaum, sedangkan Kapernaum merupakan kota yang terletak di pesisir sebab berada di tepi danau Galilea. Ketidaktahuan geografi kota yang tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan pelayanan Yesus menunjukkan penulis Injil Barnabas bukan orang dari Israel.
Pasal 54:23 merupakan kesalahan budaya yang hubungannya dengan pemakaian mata uang, disebutkan dalam ayat tersebut mata uang memakai "filis". Mata uang tersebut tidak dikenal pada tahun-tahun pertama Masehi, karena filis merupakan mata uang yang dipakai di Spanyol, sedangkan pada zaman Yesus mata uang yang dipakai menggunakan dinar, syikal, lepton, talenta, mina dan masih ada beberapa lagi tetapi filis tidak termasuk. Kesalahan budaya yang lain dalam pasal 152:26 menyebutkan "...menggelindingkan tong-tong kayu yang dicuci untuk diisi lagi dengan arak", catatan dalam Alkitab pada zaman Yesus anggur ditempatkan di kirbat (kantong) kulit atau tempayan yang terbuat dari tanah. Hanya orang Eropa dan para koboi yang meletakkan anggur di tong-tong kayu.
Pasal 82:19 disebutkan kalau tahun Yobel jatuh tiap seratus tahun, sementara itu dalam Imamat 25:1-22; 27:16-24 Yobel dirayakan setiap lima puluh tahun sekali. Rupanya Yobel tiap seratus tahun dalam Injil Barnabas penulisnya memakai dekrit yang dikeluarkan oleh Paus Bonifacius VIII tahun 1300 yang menyatakan bahwa gereja Katolik dibawah yuridiksi kepausan harus merayakan tahun Yobel setiap seratus tahun. Berarti Penulis Injil Barnabas tidak memiliki latar belakang sebagai orang yang beragama Yahudi melainkan beragama Katolik.
Pasal 39 mengisahkan Allah menciptakan manusia pertama yang sisebut Adam, dan tulisan tersebut berbeda dengan yang tertulis dalam kitab Kejadian (Taurat) 1:1-31. Perbedaannya terletak pada waktu penciptaan manusia yang diberi nama Adam, dimana Adam dikisahkan melihat di angkasa tulisan yang bersinar bunyinya: "Tiada Tuhan melainkan Allah, Muhammad (yang Terpuji) Rasul Allah." (Ayat 14), ditambahkan dalam ayat 24 dan 25 bahwa kuku ibu jari kanan Adam tertulis "Tiada Tuhan melainkan Allah" sedangkan pada kuku jari kirinya bertuliskan "Muhammad Rasul Allah". Apa yang dilihat Adam dan yang tertulis di kukunya merupakan syahadat dalam agama Islam, yang muncul pada abad keenam yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa penciptaan, apalagi Barnabas seorang Yahudi tentu dia memahami kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Kalau dihubungkan dengan pasal 92:2 yang menegaskan "Yesus beserta para murid-Nya telah memelihara keempat puluh hari itu (sesuai catatan kaki: hari puasa)”, ini berhubungan dengan puasa empat puluh hari dalam agama Islam (ramadan), sebab Yesus tidak pernah memelihara puasa empat puluh hari. Hal itu membuktikan kalau penulis Injil Barnabas sedang berusaha menciptakan Injil untuk memberikan dukungan terhadap agama Islam.

KESIMPULAN
Jadi melihat banyaknya kesalahan yang dilakukan penulis Injil Barnabas terhadap injil yang ditulisnya, yang meliputi ketidaktahuan arti istilah keagamaan, tidak tahu sejarah dan geografi Israel, tidak mengetahui budaya dan peringatan hari besar agama Yahudi, menunjukkan penulis Injil Barnabas bukanlah orang Israel. Selain itu ia memiliki hubungan yang dekat dengan agama Katolik sebab mengetahui dekrit yang dikeluarkan oleh Paus, namun agama yang dianutnya adalah agama Islam terbukti ia memuat syahadat dan tentang memelihara puasa empat puluh hari (ramadan). Dengan begitu Injil Barnabas lebih tepat dikatakan sebagai Injil Islam daripada Injil Kristen, karena Injil Barnabas jika disejajarkan dengan keempat Injil lainnya dapat disebut injil palsu (Pseudepigrafa). Walaupun memakai Barnabas sebenarnya bukanlah Barnabas teman rasul Paulus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, alasannya ia bukan orang Israel dan berlatar belakang Katolik yang memeluk agama Islam. Selamat berpikir dan merenungkan.

PAULUS PENDIRI AGAMA KRISTEN? BUKAN YESUS? (Menjawab Tuduhan non-Kristen melalui perspektif yang benar. Ditulis oleh Daniel Heruyono dari GTI Tiberias Blitar, Jawa Timur)

Keselamatan yang diterima seseorang didalamnya salah satunya dijanjikan masuk ke dalam surga, untuk itu dikekristenan tidak ditentukan oleh agama Kristen yang dianut seseorang. Oleh sebab kekristenan tidak ada hubungannya dengan agama yang didalamnya ada tuntutan, untuk melakukan syariat dan rukun sebagai syarat masuk ke surga. Kekristenan merupakan kehidupan yang dikembalikan pada gambar Allah semula, untuk melakukan rencana Allah didalam iman kepada pengorbanan Yesus disalib. Dalam kekristenan masuk ke surga bukanlah menjadi tujuan, masuk surga merupakan hak waris sebagai anak Allah, yang diberikan kepada orang yang menerima penebusan dosa melalui pengurbanan Yesus disalib (Yoh. 1:12). Sedangkan para pengikut agama-agama melakukan amal saleh berharap untuk dapat masuk surga, sedangkan orang Kristen beribadah dan berkurban sebagai wujud bakti kepada Tuhan yang telah menyelamatkan, makanya sewaktu orang Kristen beribadah disebut dengan kebaktian.
Polemikus Islam memandang kekristenan dalam kacamata agama Islam, dimana beragama Islam menjadi syarat untuk seseorang masuk surga, sehingga berasumsi kalau bisa membatalkan eksistensi agama Kristen berarti meruntuhkan kekristenan. Dengan membatalkan agama Kristen berarti tidak ada lagi harapan untuk masuk surga, dan diharapkan memeluk agama Islam menjadi alternatifnya. Karena itu begitu bersemangat menyatakan bahwa pendiri agama Kristen bukanlah Yesus melainkan Paulus, tuduhan tersebut dimaksudkan untuk mempertentangkan apa yang diajarkan Paulus berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Hal itu dilakukan sebagai salah satu strategi untuk menggoyang dogtrin iman Kristen, tujuannya agar orang Kristen menyangsikan atau meninggalkan agama Kristen. Dasar yang dijadikan argumen bahwa sebutan Kristen bukan muncul dari perkataan Yesus, saat Paulus di kota Antiokhialah pada mulanya pengikut Yesus disebut Kristen (Kis. 11:26), lalu dengan begitu disimpulkanlah kalau Paulus yang memproklamirkan agama Kristen.

YESUS TIDAK MEMPROKLAMIRKAN AGAMA KRISTEN
Alkitab memberikan banyak bukti jikalau Yesus tidak memproklamirkan agama Kristen, dikarenakan memang misi-Nya datang ke dunia bukan untuk mendirikan agama Kristen, Yesus datang untuk menjadi kurban bagi pemulihan manusia yang diperbudak oleh dosa. Orang yang hidupnya telah dipulihkan tersebut memiliki gaya hidup yang berbeda, prinsip hidupnya tidak lagi didasarkan pada tradisi agama Yahudi atau kepercayaan pagan, melainkan pada kebenaran yang diajarkan oleh Yesus. Penyebutan Kristen dimunculkan bukan dimaksudkan untuk memproklamirkan agama Kristen, titik tolak pemberian nama tersebut untuk memberi "lebel" kepada kelompok yang memiliki keyakinan yang dianggap aneh. Gaya hidup yang berbeda itulah yang menjadikan pengikut Yesus tidak sama dengan orang-orang kebanyakan, sehingga mereka memberikan julukan "Kristiano" sebagai panggilan untuk mengejek. Dan pemberian nama Kristen memang akhirnya diterima secara luas, bahkan rasul Petrus mengakui keabsahan pemakaian nama tersebut (1 Pet. 4:16). Dan rupanya julukan Kristiano menjadi stigmata untuk para pengikut Yesus, yang dewasa ini orang menyebutnya dengan Kristian atau Kristen.
Dengan demikian munculnya ide untuk memberi nama Kristen kepada pengikut Yesus bukan dari Paulus, dan lagi Paulus merupakan orang baru dalam komunitas para pengikut Yesus pada waktu itu, sedangkan untuk bergabung dengan komunitas ini Barnabas yang memiliki inisiatif untuk mengajak Paulus (perhatikan Kis.11:25). Paulus sebagai petobat baru bagaimana mungkin dalam waktu yang singkat, memiliki pengaruh melebihi Barnabas sebagai seniornya (Kis. 4:36), karena itu Paulus yang baru saja bergabung mustahil yang memberi nama dan memproklamirkan agama Kristen. Bisa dilihat dalam Kisah Para Rasul pasal tiga belas barulah Paulus mengambil inisiatif dalam melakukan misi pelayanan pewartaan Kabar Baik, beruntung penyebutan Kristen untuk para pengikut Yesus tidak terdapat sesudah pasal tiga belas, kalau tidak indikasi Paulus yang mendirikan agama Kristen sulit terbantahkan. Tetapi fakta literal cukup jelas bahwa penyebutan Kristen terhadap pengikut Yesus bukanlah ide dari Paulus, dan tidak ada data pendukung bahwa agama Kristen yang mendirikan rasul Paulus.

KESIMPULAN
Memahami kekristenan dalam perspektif agama Islam sama saja dengan memakai kacamata pantai untuk menyelam, bukannya melihat pemandangan yang indah justru mata akan terasa perih. Hal itu seperti tuduhan terhadap agama Kristen yang didirikan oleh rasul Paulus, merupakan bentuk perlakuan sewenang-wenang terhadap fakta historis dari kekristenan, dan bukti literal membantah tuduhan tersebut. Jangan lupa yang menjadi pemimpin kekristenan pada waktu itu bukan Paulus, melainkan Yakobus, Petrus (Kefas) dan Yohanes dimana ketiganya diakui oleh Paulus sebagai sokoguru (Gal. 2:9), maka merekalah yang disebut sokoguru yang seharusnya pantas dituduh yang mendirikan agama Kristen. Semoga saja setiap orang yang merindukan serta mencari kebenaran, dapat memakai kacamata yang tepat dalam melihat kekristenan. Selamat berpikir dan merenungkan.